CONTOH CERPEN YANG BAIK DAN BENAR
“ Penantian Setelah Bertahun-Tahun ”
Suatu hari, di
gubuk kecil yang berada dalam suatu desa terpencil di Pulau Sulawesi,
tinggallah seorang pengembala yang tinggal bersama istri anaknya. Mereka
tinggal dengan kehidupan yang sangat sederhana. Setiap hari mereka selalu
melakukan aktivitas yang sama. Kepala keluarganya ( ayahnya ) selalu pergi ke
ladang bersama dengan anak pertamanya ( Roni ) untuk menggembala hewan-hewan
peliharaannya. Istri dan anak keduanya ( Rini ) selalu melakukan pekerjaan
rumah seperti yang dilakukan oleh wanita-wanita pada umumnya.
Suatu
pagi, anak perempuannya itu bangun lebih awal daripada ibunya. Ia segera
menyiapkan makanan untuk sarapan dan segera membereskan rumah. Setelah semua
selesai, ia pun pergi menuju sungai yang berada sekitar delapan meter dari
rumahnya dan mencelupkan setengah dari tiap-tiap kakinya kedalam air sambil
menggerak-gerakkan kakinya dan duduk termenung sendirian. Taklama kemudian,
ibunya bangun dan membangunkan suaminya dan segera menuju dapur untuk menyiapkan
sarapan. Sesampainya didapur, ia terkejut melihat kedalam tudung saji yang
sudah berisi makanan sebanyak empat piring untuk makan sebanyak empat orang. Ia
pun segera menuju ke kamar Roni dan Rini. Tetapi sesampainya di kamar
anak-anaknya ia terkejut karena Rini tidak ada di kamarnya, hanya ada Roni
disana. Kemudian ia membangunkan Roni dan menanyakannya tentang keberadaan
adiknya. Tetapi, Roni tidak mengetahui tentang keberadaan adiknya. Ibunya pun
segera keluar untuk membuka pintunya. Tetapi, lagi-lagi ia terkejut karena
melihan pintu rumahnya yang sudah terbuka.
Ia segera keluar
dan kemudian melihat Rini yang duduk di tepi sungai. Ia segera memanggil dari
pintu rumahnya, “ Rini....Rini....”. Tetapi Rini tidak menghiraukannya, jadi
ibunya datang menghampirinya dan menablek punggungnya. Kemudian Rini tersadar
dari lamunannya itu.
Ia menanyakan kepada ibunya , “ Ibu, mengapa ibu kesini? Apa tidak ada
yang harus ibu kerjakan ? ”. “ Lantas apa yang
harus ibu kerjakan? Anakku yang satu ini suah menyelesaikannya. Oya kamu
ngapain disini nak? Apa kamu nggak kedinginan? ”, ujur ibunya itu dengan halus. Anaknya itu menjawab,“ Tidak bu, tadi malam
aku bermimpi suatu hal yang aneh, semalam, seorang wanita cantik jelita dengan
berpakaian gaun berwarna putih dan biru dengan hiasan diatas kepalanya yang
berupa bandana dari ranting pohon dan daun. Selain itu bu, ia juga menggunakan
kalung persis seperti milikku ini bu!. Ia sangat baik padaku, ia mengajakku
bermain di sungai ini. Ia terlihat seakan-akan ia sangat dekat denganku bu! ”
ujar Rini dengan sangat serius.
Tetapi, ibunya mengalihkan perhatiannya dengan mengatakan, “ Ah.....itu
hal yang biasa nak, mungkin kamu kecapekan jadinya kamu berkhayal yang
enggak-enggak sampai terbawa mimpi. Emm.. sudahlah ayo kita sarapan! Ayah dan
kak Roni udah nunggu tuh! ”. “
Tapi
bu,Itu nyata!!! Itu......”, ujar Rini serius. Tanpa memperhatikannya, ibunya
langsung menggandeng tangannya dan segera pergi ke ruang makan untuk sarapan.
Rini tak bisa bicara apapun lagi, ia mengikuti ibunya menuju ruang makan.
“ Lah.... ini Rini,
kamu dari mana aja deg? ”, tanya kakaknya Reno. “ Dipinggir sungai kak ”, jawab
Rini. Mereka semua segera melahap sarapan. Setelah mereka semua selesai
sarapan, mereka bergantian untuk mandi di satu-satunya kamar mandi yang ada di
rumahnya itu. Kamar mani itu berukuran sangat kecil. Airnya pun berasal dari
air sungai yang berada didepan rumahnya itu. Airnya pun juga sebenarnya tidak
baik untuk menjaga kesehatan tubuh, karena airnya terlihat keruh. Tapi mereka
harus bagaimana lagi, kebutuhan merekapun ya begitu lah. Bisa makan saja mereka
sudah bersyukur.
Setelah mereka
semua mendapat giliran mandi, mereka segera melakukan aktivitas seperti yang
dilakukan seperti biasanya. Ayahnya pergi ke ladang untuk mengembala
hewan-hewannya. Ibunya membereskan rumah yang belum terselesaikan dan
menyiapkan menu untuk makan siang. Reno dan Rini pergi mencari mangga untuk
dimakan nanti siang. Mereka memetik mangga di tepi sungai depan rumahnya.
Mereka berhasil mendaatkan delapan buah mangga. Kemudian mereka pulang dan
membantu ibunya membuat bumbu rujak untuk dilahap bersama dengan buah mangga
yang berhasil mereka dapatkan itu. Dalam satu hari, mereka hanya makan sebanyak
dua kali. Tetapi mereka tidak pernah mengeluh atas keberadaannya itu. Oleh
karena itu, mereka menyisihkan beberapa mangganya untuk dimakan sewaktu-waktu
ketika mereka lapar. Mereka memang tinggal dengan sangat sederhana. Bahkan anak
seusia Reno dan Rini yang seharusnya sekolah, merekapun tidak sekolah karena
tidak mempunyai biaya.
Malam telah tiba,
Reno dan Rini pun segera masuk ke kamar dan segera tidur. Seperti biasa,
sebelum mereka tidur, ibunya selalu membacakan dongeng. Kali ini ibunya
membacakan dongeng yang berjudul “ Putri salju dan kurcaci ”. Setelah lama
mereka mendengarkan dongengnya, mereka pun tertidur. Dalam tidurnya, Rini
bermimpi hal yang sama tentang perempuan cantik itu. Dalam mimpinya, ia
mengajak Rini untuk bermain di sungai dan selalu menunjukkan kalung yang sama
dipakai oleh keduanya dengan tanda huruf “R”. Karena perempuan itu sangat
cantik ia mengira wanita itu seperti putri yang diceritakan ibunya sebelum ia
tidur.
Ia terbangun dari
tidurnya tepat pada jam 04.30 , tanpa menghiraukan apapun ia langsung melakukan
pekerjaannya dengan menyiapkan sarapanan dan membereskan rumah. Setelah itu ia
langsung pergi ke sungai dan duduk bersandar di pohon beringin sambil
kebingungan memikirkan arti dalam mimpinya selama ini. Tak lama kemudian ibunya
bangun dari tidurnya dan melihat hal yang sama seperti pada hari sebelumnya
yaitu rumah sudah rapi dan sarapan sudah siap. Ibunya pun langsung menuju
sungai depan rumahnya itu lagi dan duduk disebelah Rini. Ia kembali menanyakan
pada Rinim, “ Mengapa nak kamu kesini lagi ? ”.
“ Semalam aku bermimpi hal yang sama tentang perempuan itu bu, aku belum
pernah bermimpi seperti yang sangat nyata ini bu, tolonglah bu, bantu aku
menjelaskan apa maksud dari mimpi ini bu !”, jawab Rini dengan nada sangat
serius. Ibunya kembali mengalihkan perhatiannya.
Tetapi kali ini Rini menolaknya
dan berkata, “ Tolonglah bu, jangan alihkan pembicaraanku ini lagi, aku merasa
itu bukan mimpi, ini nyata ! Mungkin itu dalam mimpi tapi aku punya firasat ada
yang tidak beres bu !”. “ Ya nak,
aku tahu apa yang kau rasakan, tapi ibu sendiri tidak tahu apa maksud dari
mimpimu nak! Sudahlah ayo kita sarapan ”. Ia hanya dapat kembali dengan
menghela nafas berat, ia hanya bisa pasrah.
Setelah itu mereka
masuk ke dalam rumah dan segera sarapan. Setelah sarapan, mereka kembali
melakukan aktivitas seperti biasa. Setelah melakukan aktivitas sehari-harinya,
Reno dan Rini mencari belimbing untuk dimakan nanti siang. Karena Rini terlihat
lelah, Reno pun menyuruh Rini untuk istirahat dibawah pohon beringin itu lagi
sambil menunggu kakaknya mencari belimbing. Kemudian kakaknya pergi mencari
belimbing sendirian. Rini juga beristirahat dibawah pohon beringin sendirian.
Baru saja setelah
Reno pergi mencari belimbing, Rini dikejutkan oleh kedatangan seorang wanita
cantik yang datang bersama suaminya. Mereka datang dengan menaiki kapal. Mereka
seperti orang kaya dengan banyak perhiasan emas yang dipakai oleh mereka. Rini
hanya dapat memandangi mereka dangan wajah yang sangat penuh keheranan. Wanita
itu mendekatinya dan bertanya kepadanya, “
Dek,,, permisi ibu mau tanya, apakah ada tempat penginapan di sekitar sini ? ”.
“ Tidak, mungkin
kalian boleh menginap di rumahku ”, jawab Rini masih dengan wajah yang sangat
keheranan.
“ Adik ini tinggal dimana ya ? ”,
tanya suami dari wanita itu. “
Disitu kak, memang rumah kami hanyalah sebuah gubuk kecil, memang kalian tidak
pantas untuk berada dirumah yang sangat sederhana itu pak, bu, maaf ya karena
saya sudah menawarkan kalian untuk menginap disitu ”, ujar Rini dengan
menunjukkan rumahnya dan dengan wajah merasa bersalah. “
Tidak dek, kami justru senang bisa bertemu dengan anak baik hati seperti kamu,
oya apa keluarga kamu tidak keberatan bila kami menginap dirumahmu selama dua
malam ini ? ”, jawab wanita itu.
“ Tidak kak kami justru akan
senang bila kalian mau menginap dirumah kami, oya ngomong-ngomong kalian ini
mau kemana ya , kok bisa sampai disini ? ”, tanya Rini.
“
Kami ini sudah bertahun-tahun keliling dunia untuk mencari anak tunggal kami
yang sudah enam tahun yang lalu menghilang ”, jawab wanita itu.
“
Apa!!!! Anak kalian hilang ? Bagaimana bisa hilang ? ”, tanya Rini dengan
kaget.
Mereka hanya
bisa terdiam dalam pertanyaan Rini, kemudian Rini berkata, “ Maaf, maaf sekali
, saya hanya terkejut mendengar
penjelasan dari kalian, maaf ya? ”, tanya Rini dengan nada sangat rendah
dan sangat merasa bersalah. Tak lama kemudian, Reno kembali dengan membawa
belimbing-belimbing yang lumayan banyak ia dapatkan. Reno terkejut atas
keberadaan suami-istri didekat Rini. “ Lah....ini kakakku Reno , kak ini mereka
datang untuk menginap dua malam bersama kita ”. Kemudian Reno bersalaman kepada
mereka berdua dan segera masuk kedalam rumah.
Rini segera
memanggil ibunya yang sedang berada di dapur. Kemudian ibunya keluar dan
menemui mereka berdua. Ibunya segera menyalaminya. Reno dan Rini menggelarkan
tikar untuk tempat duduknya. Mereka semua segera duduk. Ibunya menyuruh Reno
untuk pergi ke ladang dan memanggil ayah =nya untuk segera pulang. Selain itu,
Rini disuruh mengambilkan air putih dalam kendi. Kemudian setelah mereka semua
berkumpul ( termasuk ayahnya ). Mereka-pun segera membicarakan tentang masalah
yang mereka alami. Setelah beberapa lama mereka berbincang-bincang, tak terasa
matahari sudah mulai sangat terik. Mereka pun segera makan siang bersama.
Mereka memaklumi tentang keadaan ekonomi yang dialami oleh keluarga itu.Ketika
malam tiba, Rini, Ibunya, dan wanita itu berada dalam satu kamar. Selain itu,
Reno, ayahnya, dan pria itu juga tinggal satu kamar. Setelah itupun mereka
segera tidur. Pada waktu itu pun Reno dan Rini tidak dibacakan dongeng seperti
pada hari biasanya.
Pagi telah tiba,
mereka kembali melakukan aktivitas seperti pada hari-hari biasa. Setelah semua
sudah selesai, Rini ingin pergi ke tepi sungai, tapi wanita itu bertanya
kepadanya,
“ Kamu mau
kemana Rini ? ”.
“ Eh....bu, saya mau pergi ke tepi sungai seperti kemarin bu, ada apa ?
”.
“ Tidak,,, apa saya boleh ikut? ”, tanya wanita itu bersemangat. “
Iya, tentu saja boleh, mari bu ”, jawab Rini dengan bersenang hati.
Setelah
itu mereka bermain air disungai. Mereka juga berbincang-bincang. Tak sadar
disaat mereka bermain-main, kalung Rini terjatuh di air, tapi wanita itu
melihatnya dan menanyakannya kepada Rini. Kemudian Rini memegangi lehernya dan
menyatakan bahwa itu memang miliknya.Kemudian wanita itu memasangkannya ke
leher Rini dengan penuh heran.
“
Ini tanda lahir ya ? ”, tanya wanita itu dengan harapan baik pada Rini.
“ Iya bu, kenapa ? ada
apa yang membuat wajahmu terlihat sangat bahagia ”, tanya Rini dengan
heran.
“ Ayo ikut aku masuk Rini ! ”, ajaknya sambil menggandeng tangan Rini
dengan menariknya segera masuk rumah. “ Ayah.....ayah... sini yah! ”,
teriak wanita itu dalam rumah.
Semua orang datang menghampiri Rini dan wanita itu.
“ Lihat yah, apa ayah ingat kalung ini ? ”, tanya wanita itu kepada suaminya
dengan menunjukkan kalung yang dipakai oleh Rini.
“ Loh...Bagaimana bisa kalung ini bisa berada dengan Rini? Ini kan
seperti kalung yang kita pakai ini, waktu itu kita membeli tiga kalung ini dan
kemudian kita memakaikan ini ke leher bayi kita dulu mah ? Ku yakin hanya kita
bertiga yang memiliki kalung persis sekali seperti ini ”, ujarnya sambil
menunjukkan ketiga kalung yang mereka pakai sama. “ Berarti impian kita menemukan anak kita
terwujud yah, ini anak kita, ya ini anak kita ”, jawab wanita itu. “
Tidak!!! Itu tidak mungkin, Rini adalah anak kami, kami juga yang
membesarkannya, bagaimana kamu tahu ini anak kamu? ”, jawab ibu Rini dengan
merakut dan memeluk Rini.
“ Anak kami yang
hilang memiliki ciri memakai kalung ini, mempunyai tanda lahir di bagian
lehernya, dan juga matanya berwarna cokelat. Aku yakin ini anakku, ini
benar-benar anakku yang hilang! Setiap aku bersamanya, aku merasa tenang,
Tolong ijinkan Rini bersamaku! ”, ujar wanita itu sangat tulus.
“ Tidak!!!!! Kalian bohong, kalian tidak punya bukti atas semua ini,
jika kalian orang tuanya, bagaimana anak kalian bisa disini ? ”, jawab ibunya
dengan nada tinggi.
“ Ini...ini foto bayi kami dulu, lihat! Matanya cokelat, ia memakai
kalung ini, dan tanda lahir ini!!! ”, penjelasan wanita itu berdasarkan foto
dari bukti-buktinya.
“
Tidak!!!! Rini tetap anakku.....”, jawab ibunya dengan meneteskan air mata.
“ Buk,,, ceritakanlah kepada
mereka tentang Rini, kita jangan memikirkan tentang diri kita sendiri,
bagaimana nasib mereka yang telah melakukan pencarian anaknya yang hilang
selama bertahun-tahu lamanya, biarkanlah bu ceritakanlah semua pada saat Rini
kita temukan di sungai! ”, ujar ayahnya sambil mengelus punggung istrinya yang
sedang menangis tersedu-sedu.
“ Jadi,,,dulu kami sedang berlayar untuk pindah dari Jakarta menuju
tempat ini karena tidak bisa medapatkan hasil yang memuaskan, pada saat di
perjalanan, kami melihat seorang bayi yang akan dilempar oleh seseorang seperti
penjahat yang terlihat lari tergesa-gesa. Tepat pada waktu itu kami dapat
menyelamatkan bayi ini dan membawanya bersama kami. ” ujar ibunya dengan nada
yang sangat berat hati. “ Jadi kalian yang telah menyelamatkan
bayi kami dari bahaya maut ? kami sangat berterimakasih kepada kalian. Tapi
tolong izinkan kami untuk membawa Rini bersama kami !”, ujar wanita itu dengan
nada yang sangat rendah dengan memohon. “
Tapi bagaimana dengan ayah, ibu, dan Kak Reno? Aku ingin tetap tinggal bersama
mereka ”, sahut Rini dengan berat hati.
“ Rini....inilah
ibu dan ayahmu sesungguhnya nak, kamu harus tinggal bersama mereka, mereka
orang tua mu nak, kami hanya orang yang merawatmu, ikutlah nak!!!! ”, jawab
ayahnya dengan nada berat hati. “
Rini, apa kamu mau ninggalin kakak, nanti kakak nggak punya teman lagi, nanti
siapa yang akan bermain dengan kakak ? Apa kamu tidak ingin bersama kami lagi ?
”, jawab kakaknya sangat kesal. “
Eh..... apa yang kalian pikirkan, kalian semua akan ikut bersama kami untuk
tinggal menjadi suatu keluarga besar di Jakarta ”, jawab pria itu dengan senang
hati. “
Apa benar kalian mau membawa kita ? Tapi kami tidak punya cukup uang untuk
pergi ke sana ”, tanya ayah Rini. “ Sudah, semua biaya
kami yang nanggung, yang penting kalian senang ”, jawab pria itu dengan ikhlas.
“ Sungguh, beruntung sekali kita
bisa bertemu orang baik seperti kalian ini “,jawab ayah Rini.

Mereka semua segera
bersalam-salaman dan bersama-sama membereskan barang-nbarang untuk pergi ke
Jakarta. Mereka segera nak kapal dan pergi ke Jakarta. Setelah mereka sampai,
mereka memulai hidup baru yang lebih mewah di Jakarta. Mereka memiliki jalinan
hubungan yang sangat rapai sehingga seperti keluarga sendiri. Mereka pun hidup
bahagia bersama.
Harusnya ada tambahan ilustrasi yang menarik, sama boldness di beberapa kata yg dianggap penting:)
ReplyDeleteSiap, nanti saya perbaiki kaaa :")
Delete